BAB
7
TOPIK,
TEMA, TESIS, DAN KERANGKA KARANGAN
7.1 Pendahuluan
Jika seorang akan mengarang,
biasanya yang pertama kali ditentukannya adalah tema. Tema sering dianggap
orang sebagai sesuatu yang paling sentral dan sakral dalam urusan
karang-mengarang, sedangkan topik dianggap tidak sesakral tema, dan pada
umumnya dibicarakan kemudian.
Kalau kita amati, ada dua
pemahan tentang tema yang berkembang di tengah masyarakat. Pertama, tema yang
pendek.tema pendek umumnya berbentuk kata atau frasa, misalnya dikatakan suatu
film atau lagu bertema cinta, dakwah, perjuangan, atau kesenjangan sosial.
Kedua, tema yang panjang, biasanya berupa kalimat K-S-P-O
(Keterangan-Subjek-Predikat-Objek), misalnya Dengan semangat Sportivitas Kita
Sukseskan PON Ke-15; Melalui Kepedulian Sosial Kita Gencarkan GNOTA (Gerakan
Nasional Orang Tua Asuh).
7.2 Topik dan Judul
Topik berarti pokok
pembicaraan, pokok pembahasan, pokok permasalahan atau masalah yang
dibicarakan. Topik karangan adalah suatau hal yang akan digarapkan menjadi karangan.
Topik karangan merupakan jawaban atas pertanyaan Masalah apa yang akan di
tulis/di bahas? Atau Hendak menulis/ membicarakan tentang apa?
Jika sesorang akan
mengarang, dia terlebih dahulu harus memilih dan menetapkan topik karangannya.
Sangat banyak permasalahan di sekitar kita yang dapat dijadikan topik: putus
sekolah, pengangguran, kenaikan harga, keluarga berencana, polusi, kenakalan
remaja, dan sebagainya. Ciri khas topik terletak pada permasalahannya yang
bersifat umum dan belum terurai. Perlu diketahui, topik karangan ilmiah harus
tentang sesuatu yang nyata, tidak boleh abstrak.
7.3 Tema dan Tesis
Tema berarti pokok
pemikiran, ide, atau gagasan tertentu yang akan dituangkan oleh penulis dalam
karangannya. Tema adalah sesuatu yang melatarbelakangi dan mendorong seseorang
menuliskan karangannya. Dalam kasus kelangkaan BBM di tanah air kita, misalnya,
seseorang yang mengetahui penyebab kelangkaan itu ingin membagi
“pengetahuannya” itu kepada pembaca. Dalam tulisannya ia akan menuangkan pokok
pemikirannya untuk mengatasi kelangkaan tersebut. Pokok pemikiran itulah yang
disebut tema. Penetapan tema sebelum mengarang sangat penting sebagai pedoman
menulis karangan secara teratur sehingga isi karangan tidak menyimpang dari
tujuan yang ditetapkan.
Jika seseorang memikirkan
sesuatu (tema) tentulah terkandung maksud, tujuan, atau sasaran tertentu yang
ingin dicapainya. Maksud dan tujuan itu disebut dengan tesis. Tesis adalah
pernyataan singkat tentang maksud dan tujuan penulis. Karena itu, tesis sering
juga disebut dengan pengungkapan maksud. Tesis harus lugas sehingga perlu
diungkapkan dalam satu kalimat lengkap. Dalam karangan ilmiah murni, tesis
sering disebut dengan istilah hipotesis, yaitu pertanyataan yang masih rendah,
dan oleh karana itu perlu dibuktikan kebenerannya.
Perhatikan contoh di bawah ini:
1. Topik:
cara mengemukakan pendapat yang Efektif.
Tesis: mengemukakan pendapat haruslah
secara logis dan sistematis dengan menggunakan bahasa yang tepat.
2. Topik:
dampak buruk Aborsi
Tesis: Aborsi berdampak buruk ditinjau
dari sudut pandang kesehatan, moral, dan agama.
7.3 Kerangka (Outline) Karangan
Kerangka karanagan adalah
rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Fungsi utama kerangka
adalah untuk mengatur hubungan antara gagasan-gagasan. Melalui kerangka
karangan, pengarang dapat melihat kekuatan dan kelemahan dalam perencanaan
karangannya. Dengan cara ini pengarang dapat mengadakan penyesuaian sebelum
menulis (bandingkan dengan blueprint atau cetak biru pembangunan gedung).
Kerangka karangan mengandung
rencana kerja menyusun karangan. Kerangka akan mengarahkan penulis menggarap
karangan secara teratur. Kerangka juga akan membantu penulis membedakan antara
ide utama dan ide tambahan.
Kerangka karangan dapat
mengalami perubahan terus menurus utuk mencapai suatu bentuk yang sempurna.
Kerangka karangan juga dapat berbentuk catatan-catatan sederhana, tetapi dapat
juga mendetail. Kerangka yang belum final disebut outline sementara, sedangkan
kerangka yang sudah tersusun rapih, dan lengkap disebut dengan outline final
atau kerangka mantap.
7.4.1 Bentuk Kerangka Karangan
Bentuk kerangka karangan ada
dua macam (1) kerangka topik, (2) kerangka kalimat. Dalam praktik pemakaian
yang banyak dipakai adalah kerangka topik.
Kerangka topik terdiri atas kata, frasa, dan klausa yang
ditandai dengan kode yang sudah lazim untuk menyatakan hubungan antar gagasan.
Tanda akhir baca (titik) tidak diperlukan karena kalimat lengkap tidak dipakai
dalam kerangka topik.
Kerangka kalimat lebih
bersifat resmi dan unsur-unsurnya tampil berupa kalimat lengkap. Pemkaian
kalimat lengkap menunjukan diperlukan pemikiran yang lebih luas dan lebih rinci
dibandingkan dengan kerangka topik. Tanda baca titik harus dipakai diakhir
setiap kalimat untuk menuliskan judul bab dan subbab. Kerangka kaliamt banyak
dipakai pada proses awal penyusunan outline. Bila outline telah selesai,
kerangka kalimat itu dapat dipadatkan menjadi kerangka topik, demi kepraktisan.
Jadi, kerangka dapat saja berbentuk gabungan kerangaka kaliamat dan kerangka
topik. Walaupun pemakian kerangka topik lebih dominan, tidaklah dipantagkan
penulisan judul judul bab yang panjang.
7.4.2 Pola PenyusunannKerangka Keterangan
Ada dua pola yang lazim
dipakai untuk menyusun kerangka karangan yaitu, (1) pola alamiah, (2) pola
logis.
7.4.2.1 Pola Alamiah
Penyususnan kerangka
karanagan yang berpola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan
waktu. Oleh karena itu urutan bab dan subbab dalam kerangka berpola alamiah
dapat dibagi dua, yaitu (1) urutan ruang (spasial), (2) urutan waktu
(temporal). Yang dimaksud dengan urutan ruang adalah pola penguraian yang
menggambarkan keadaan suatu ruang: dari kiri kanan, dari atas kebawah, dan
seterusnya; sedangakan urutan waktu adalah penguraian berdasarkan urutan
kejadian suatau peristiwa atau rangkaian peristiwa secara kronologis.
7.4.2.2 Pola Logis
Pola logis memakai
pendekatan berdasarkan cara berpikir manusia. Cara berpikir ada beberapa macam
dan pendekatannya berbeda-beda bergantung pada sudut pandang dan tanggapan
penulis terhadap topik yang akan ditulis. Itulah sebanya dalam kerangka berpola
logis timbul variasi penempatan unit-unit. Adapun macam-macam urutan logis
adalah klimaks-antiklimaks, sebab-akibat, pemecahan masalah, dan umum-khusus.
Kiranya macam-macam urutan pola logis itu tidak perlu lagi dijelaskan disini
satu persatu beserta lawan atau kebalikannya. Dengan memperhatikan contoh
kerangka karangan urutan klimaks, misalnya dengan mudah dapat kita bayangkan
urutan anti klimaks; demikianlah urutan pasangan yang lainnya.
BAB
8
PENULISAN
KARANGAN
8.1 Pengertian Mengarang dan Karangan
Pada awalnya kata merangkai
tidak berkaitan dengan kegiatan menulis. Cakupan makna kata merangkai mula-mula
terbatas pada pekerjaan yang berhubungan dengan benda konkret-konkret merangkai
bungan atau merangkai benda lain. Sejalan dengan kemanjuan komunikasi dan
bahasa, lama-kelamaan timbul istilah merangkai kata. Lalu berlanjut dengan
merangkai kalimat; kemudian jadilah apa yang disebut pekerjaan mengarang. Orang
yang merangkai atau menyusun kata, kalimat, dan alenia tidak disebut perangkai,
tetapi penyususn atau pengarang untuk membedakannya misalnya engan perangkai
bunga. Mengingat karangan tertulis juga disebut tulisan (hasil menulis),
kemudian timbullah sebutan penulis untuk orang yang menulis suatu karangan.
Sebenarnya mengarang tidak
hanya dan tidak harus tertulis. Seperti halnya berkomunikasi, kegiatan
mengarang yang juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya dapat berlangsung
secara lisan. Seseorang yang berbicara, misalnya dalam sebuah diskusi atau
berpidato secara serta merta (improtu), otaknya terlebih dahulu harus mengarang
sebelum mulutnya berbicara. Pada saat berbicara, sang pembicara itu sebenarnya
“ bekerja keras” mengorganisasikan isi pembicaraan agar teratur,
terarah/terfokus, sambil memikirkan susunan kata, pilihan kata, struktur
kalimat; bahkan cara penyajiannya (misalnya deduktif atau indukatif; klimaks
atau antiklimaks). Apa yang didengar atau yang ditangkap orang dari penyajian
lisan itu, itulah karangan lisan. Akan tetapi, karena tujuan penguraian dalam
bab ini terutama mengenai karangan lisan tidak dilanjutkan di dalam buku ini.
Uraian singkat tentang mengarang secara lian tadi dimaksudkan untuk membantu
pemahaman makna kita mengarang.
8.2 Penggolongan Karangan Berdasarkan Bobot Isinya
8.2.1 Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah
Berdasarkan bobot isinya,
karangan dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu (1) karangan ilmiah, (2) karangan
semiilmiah atau ilmiah populer, (3) karangan nonilmiah atau tidak ilmiah.
Contoh karangan yang tergolong sebagai karangan ilmiah antara lain makalah,
skripsi, tesis, disertasi, yang tergolong karangan semiilmiah antara lain
artikel, berita, editorial feature, laporan, opini, tip; dan yang tergolong
karangan nonilmiah antara lain anekdot, cerpen, dongeng, hikayat, naskah drama,
novel, puisi.
8.2.2 Ciri Karangan Ilmiah dan SemiIlmiah
Sebelum merinci ciri
karangan ilmiah dan semiilmiah, ada baiknya jika kita pahami terlebih dahulu
batasan dua jenis karangan tersebut. Karangan ilmiah adalah tulisan yang
berisikan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa
tulis yang formal dengan sistematis-metodis, dan sintesis-analitis (Suriasumantri,
1995:307). Adapun karangan semiilmiah adalah tulisan yang berisikan informasi
faktual yang diungkapkan dengan bahasa semi formal, namun tidak sepenuhnya
mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering “dibumbui” open
pengarangnya yang terkadang subjektif.
Ciri karangan ilmiah minimal
ada tiga. Pertama, karangan ilmiah harus merupakan pembahasan suatu yang
penelitian (faktual objektif). Faktual objektif berarti faktanya sesuai dengan
objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau
empiri. Objektif juga mengandung pengertian adanya sikap jujur dan tidak
memihak serta memakai ukuran umum dalam menilai sesuatu, bukan ukuran yang yang
subjektif (selera perseorangan). Kedua,karangan ilmiah bersifat metodis dan
sistematis. Artinya teknis penulisannya menggunakan cara tertentu dengan
langkah-langkah teknis yang teratur (sitematis) dan terkontrol melalui proses
pengidentifikasian masalah, pembahasan (analisis), sampai penarikan simpulan.
Ketiga, bahasa karangan ilmiah selalu
menggunakan laras ilmiah. Laras ilmiah harus baku dan formal. Selain itu, laras
ilmiah bersifat lugas agar tidak menimbulkan penafsiran dan makna ganda
(ambigu).
8.3 Penggolongan Karangan Berdasarkan Cara Penyajian dan
Tujuan Penulisan
Berdasarkan cara penyajian
dan tujuan penulisannya, karangan dapat dibedakan atas enam jenis, yaitu
1. Deskripsi
(perian)
2. Narasi(kisahan)
3. Eksposisi
(paparan)
4. Argumentasi
(bahasan)
5. Persuasi
(ajakan)
6. Campuran/kombinasi
8.3.1 Karangan Deskripsi
Deskripsi dipungut dari bahasa
inggris Description yang tentu saja berbungan
dengan kata to describe (melukiskan dengn bahasa). Karangan deskripsi merupakan
karangan yang lebih menonjolkan aspek pelukisan sebuah benda bagaimana adanya.
8.3.2 Karangan Narasi
Istilah narasi berasal dari
narration = cerita. Karangan narasi adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha
menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak-tunduk perbuatan manusia dalam
sebuah peristiwa serta kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan
waktu.
8.3.3 Karangan Eksposisi
Kata eksposisi yang
dipungutb dari kata bahasa Inggris exposition sebenarnya berasal dari kata
bahasa latin yang berarti membuka atau memulai. Memang karangan eksposisi merupakan wacana yang bertujuan untuk
memberikan tahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu.
8.3.4 Karangan Argumentasi
Tujuan utama karangan
argumentasi adalah untuk menyakinkan pembaca agar menerima atau mengambil suatu
doktrin, sikap, dan tingkah laku tertentu. Syarat utama untuk menulis karangan
argumentasi adalah penulisan harus terampil dalam bernalar dan menyusun ide
yang logis.
8.3.5 Karangan Persuasi
Dalam bahasa inggris kata to
persuade berarti ‘membujuk’ atau ‘menyakinkan’. Bentuk nominanya adalah
persuation yang kemudian menajdi kata pungut bahasa indonesia: persuasi.
Karangan persuasi adalah karangan yang bertujuan membuat pembaca percaya yakin,
dan terbujuk akan hal-hal yang dikomunikasikan yang mungkin berupa fakta, suatu
pendirian umum, suatu pendapat/ gagasan ataupun perasaan seseorang.
8.3.6 Karangan Campuran
Selain juga dari karangan
murni, misalnya eksposisi atau persuasi, sering ditemukan karanagan campuran
atau kombinasi. Isinya dapat meruapakan gabungan eksposisi dengan deskripsi,
atau eksposisi dengan argumentasi. Dalam wacana yang lain sering kata temukan
narasi berperan sebagai ilustrasi bagi karangan eksposisi atau persuasi.