Minggu, 08 Mei 2016

Rangkuman Bahasa Indonesia

BAB 7
TOPIK, TEMA, TESIS, DAN KERANGKA KARANGAN
7.1 Pendahuluan
Jika seorang akan mengarang, biasanya yang pertama kali ditentukannya adalah tema. Tema sering dianggap orang sebagai sesuatu yang paling sentral dan sakral dalam urusan karang-mengarang, sedangkan topik dianggap tidak sesakral tema, dan pada umumnya dibicarakan kemudian.
Kalau kita amati, ada dua pemahan tentang tema yang berkembang di tengah masyarakat. Pertama, tema yang pendek.tema pendek umumnya berbentuk kata atau frasa, misalnya dikatakan suatu film atau lagu bertema cinta, dakwah, perjuangan, atau kesenjangan sosial. Kedua, tema yang panjang, biasanya berupa kalimat K-S-P-O (Keterangan-Subjek-Predikat-Objek), misalnya Dengan semangat Sportivitas Kita Sukseskan PON Ke-15; Melalui Kepedulian Sosial Kita Gencarkan GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh).
7.2 Topik dan Judul
Topik berarti pokok pembicaraan, pokok pembahasan, pokok permasalahan atau masalah yang dibicarakan. Topik karangan adalah suatau hal yang akan digarapkan menjadi karangan. Topik karangan merupakan jawaban atas pertanyaan Masalah apa yang akan di tulis/di bahas? Atau Hendak menulis/ membicarakan tentang apa?
Jika sesorang akan mengarang, dia terlebih dahulu harus memilih dan menetapkan topik karangannya. Sangat banyak permasalahan di sekitar kita yang dapat dijadikan topik: putus sekolah, pengangguran, kenaikan harga, keluarga berencana, polusi, kenakalan remaja, dan sebagainya. Ciri khas topik terletak pada permasalahannya yang bersifat umum dan belum terurai. Perlu diketahui, topik karangan ilmiah harus tentang sesuatu yang nyata, tidak boleh abstrak.
7.3 Tema dan Tesis
Tema berarti pokok pemikiran, ide, atau gagasan tertentu yang akan dituangkan oleh penulis dalam karangannya. Tema adalah sesuatu yang melatarbelakangi dan mendorong seseorang menuliskan karangannya. Dalam kasus kelangkaan BBM di tanah air kita, misalnya, seseorang yang mengetahui penyebab kelangkaan itu ingin membagi “pengetahuannya” itu kepada pembaca. Dalam tulisannya ia akan menuangkan pokok pemikirannya untuk mengatasi kelangkaan tersebut. Pokok pemikiran itulah yang disebut tema. Penetapan tema sebelum mengarang sangat penting sebagai pedoman menulis karangan secara teratur sehingga isi karangan tidak menyimpang dari tujuan yang ditetapkan.
Jika seseorang memikirkan sesuatu (tema) tentulah terkandung maksud, tujuan, atau sasaran tertentu yang ingin dicapainya. Maksud dan tujuan itu disebut dengan tesis. Tesis adalah pernyataan singkat tentang maksud dan tujuan penulis. Karena itu, tesis sering juga disebut dengan pengungkapan maksud. Tesis harus lugas sehingga perlu diungkapkan dalam satu kalimat lengkap. Dalam karangan ilmiah murni, tesis sering disebut dengan istilah hipotesis, yaitu pertanyataan yang masih rendah, dan oleh karana itu perlu dibuktikan kebenerannya.
Perhatikan contoh di bawah ini:
1.    Topik: cara mengemukakan pendapat yang Efektif.
Tesis: mengemukakan pendapat haruslah secara logis dan sistematis dengan menggunakan bahasa yang tepat.
2.    Topik: dampak buruk Aborsi
Tesis: Aborsi berdampak buruk ditinjau dari sudut pandang kesehatan, moral, dan agama.
7.3 Kerangka (Outline) Karangan
Kerangka karanagan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Fungsi utama kerangka adalah untuk mengatur hubungan antara gagasan-gagasan. Melalui kerangka karangan, pengarang dapat melihat kekuatan dan kelemahan dalam perencanaan karangannya. Dengan cara ini pengarang dapat mengadakan penyesuaian sebelum menulis (bandingkan dengan blueprint atau cetak biru pembangunan gedung).
Kerangka karangan mengandung rencana kerja menyusun karangan. Kerangka akan mengarahkan penulis menggarap karangan secara teratur. Kerangka juga akan membantu penulis membedakan antara ide utama dan ide tambahan.
Kerangka karangan dapat mengalami perubahan terus menurus utuk mencapai suatu bentuk yang sempurna. Kerangka karangan juga dapat berbentuk catatan-catatan sederhana, tetapi dapat juga mendetail. Kerangka yang belum final disebut outline sementara, sedangkan kerangka yang sudah tersusun rapih, dan lengkap disebut dengan outline final atau kerangka mantap.
7.4.1 Bentuk Kerangka Karangan
Bentuk kerangka karangan ada dua macam (1) kerangka topik, (2) kerangka kalimat. Dalam praktik pemakaian yang banyak dipakai adalah kerangka topik.
Kerangka topik terdiri atas kata, frasa, dan klausa yang ditandai dengan kode yang sudah lazim untuk menyatakan hubungan antar gagasan. Tanda akhir baca (titik) tidak diperlukan karena kalimat lengkap tidak dipakai dalam kerangka topik.
Kerangka kalimat lebih bersifat resmi dan unsur-unsurnya tampil berupa kalimat lengkap. Pemkaian kalimat lengkap menunjukan diperlukan pemikiran yang lebih luas dan lebih rinci dibandingkan dengan kerangka topik. Tanda baca titik harus dipakai diakhir setiap kalimat untuk menuliskan judul bab dan subbab. Kerangka kaliamt banyak dipakai pada proses awal penyusunan outline. Bila outline telah selesai, kerangka kalimat itu dapat dipadatkan menjadi kerangka topik, demi kepraktisan. Jadi, kerangka dapat saja berbentuk gabungan kerangaka kaliamat dan kerangka topik. Walaupun pemakian kerangka topik lebih dominan, tidaklah dipantagkan penulisan judul judul bab yang panjang.
7.4.2 Pola PenyusunannKerangka Keterangan
Ada dua pola yang lazim dipakai untuk menyusun kerangka karangan yaitu, (1) pola alamiah, (2) pola logis.
7.4.2.1 Pola Alamiah
Penyususnan kerangka karanagan yang berpola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan waktu. Oleh karena itu urutan bab dan subbab dalam kerangka berpola alamiah dapat dibagi dua, yaitu (1) urutan ruang (spasial), (2) urutan waktu (temporal). Yang dimaksud dengan urutan ruang adalah pola penguraian yang menggambarkan keadaan suatu ruang: dari kiri kanan, dari atas kebawah, dan seterusnya; sedangakan urutan waktu adalah penguraian berdasarkan urutan kejadian suatau peristiwa atau rangkaian peristiwa secara kronologis.
7.4.2.2 Pola Logis
Pola logis memakai pendekatan berdasarkan cara berpikir manusia. Cara berpikir ada beberapa macam dan pendekatannya berbeda-beda bergantung pada sudut pandang dan tanggapan penulis terhadap topik yang akan ditulis. Itulah sebanya dalam kerangka berpola logis timbul variasi penempatan unit-unit. Adapun macam-macam urutan logis adalah klimaks-antiklimaks, sebab-akibat, pemecahan masalah, dan umum-khusus. Kiranya macam-macam urutan pola logis itu tidak perlu lagi dijelaskan disini satu persatu beserta lawan atau kebalikannya. Dengan memperhatikan contoh kerangka karangan urutan klimaks, misalnya dengan mudah dapat kita bayangkan urutan anti klimaks; demikianlah urutan pasangan yang lainnya.

BAB 8
PENULISAN KARANGAN
8.1 Pengertian Mengarang dan Karangan
Pada awalnya kata merangkai tidak berkaitan dengan kegiatan menulis. Cakupan makna kata merangkai mula-mula terbatas pada pekerjaan yang berhubungan dengan benda konkret-konkret merangkai bungan atau merangkai benda lain. Sejalan dengan kemanjuan komunikasi dan bahasa, lama-kelamaan timbul istilah merangkai kata. Lalu berlanjut dengan merangkai kalimat; kemudian jadilah apa yang disebut pekerjaan mengarang. Orang yang merangkai atau menyusun kata, kalimat, dan alenia tidak disebut perangkai, tetapi penyususn atau pengarang untuk membedakannya misalnya engan perangkai bunga. Mengingat karangan tertulis juga disebut tulisan (hasil menulis), kemudian timbullah sebutan penulis untuk orang yang menulis suatu karangan.
Sebenarnya mengarang tidak hanya dan tidak harus tertulis. Seperti halnya berkomunikasi, kegiatan mengarang yang juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya dapat berlangsung secara lisan. Seseorang yang berbicara, misalnya dalam sebuah diskusi atau berpidato secara serta merta (improtu), otaknya terlebih dahulu harus mengarang sebelum mulutnya berbicara. Pada saat berbicara, sang pembicara itu sebenarnya “ bekerja keras” mengorganisasikan isi pembicaraan agar teratur, terarah/terfokus, sambil memikirkan susunan kata, pilihan kata, struktur kalimat; bahkan cara penyajiannya (misalnya deduktif atau indukatif; klimaks atau antiklimaks). Apa yang didengar atau yang ditangkap orang dari penyajian lisan itu, itulah karangan lisan. Akan tetapi, karena tujuan penguraian dalam bab ini terutama mengenai karangan lisan tidak dilanjutkan di dalam buku ini. Uraian singkat tentang mengarang secara lian tadi dimaksudkan untuk membantu pemahaman makna kita mengarang.
8.2 Penggolongan Karangan Berdasarkan Bobot Isinya
8.2.1 Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah
Berdasarkan bobot isinya, karangan dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu (1) karangan ilmiah, (2) karangan semiilmiah atau ilmiah populer, (3) karangan nonilmiah atau tidak ilmiah. Contoh karangan yang tergolong sebagai karangan ilmiah antara lain makalah, skripsi, tesis, disertasi, yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, berita, editorial feature, laporan, opini, tip; dan yang tergolong karangan nonilmiah antara lain anekdot, cerpen, dongeng, hikayat, naskah drama, novel, puisi.
8.2.2 Ciri Karangan Ilmiah dan SemiIlmiah
Sebelum merinci ciri karangan ilmiah dan semiilmiah, ada baiknya jika kita pahami terlebih dahulu batasan dua jenis karangan tersebut. Karangan ilmiah adalah tulisan yang berisikan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis, dan sintesis-analitis (Suriasumantri, 1995:307). Adapun karangan semiilmiah adalah tulisan yang berisikan informasi faktual yang diungkapkan dengan bahasa semi formal, namun tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering “dibumbui” open pengarangnya yang terkadang subjektif.
Ciri karangan ilmiah minimal ada tiga. Pertama, karangan ilmiah harus merupakan pembahasan suatu yang penelitian (faktual objektif). Faktual objektif berarti faktanya sesuai dengan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri. Objektif juga mengandung pengertian adanya sikap jujur dan tidak memihak serta memakai ukuran umum dalam menilai sesuatu, bukan ukuran yang yang subjektif (selera perseorangan). Kedua,karangan ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya teknis penulisannya menggunakan cara tertentu dengan langkah-langkah teknis yang teratur (sitematis) dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah, pembahasan (analisis), sampai penarikan simpulan. Ketiga, bahasa  karangan ilmiah selalu menggunakan laras ilmiah. Laras ilmiah harus baku dan formal. Selain itu, laras ilmiah bersifat lugas agar tidak menimbulkan penafsiran dan makna ganda (ambigu).
8.3 Penggolongan Karangan Berdasarkan Cara Penyajian dan Tujuan Penulisan
Berdasarkan cara penyajian dan tujuan penulisannya, karangan dapat dibedakan atas enam jenis, yaitu
1.    Deskripsi (perian)
2.    Narasi(kisahan)
3.    Eksposisi (paparan)
4.    Argumentasi (bahasan)
5.    Persuasi (ajakan)
6.    Campuran/kombinasi
8.3.1 Karangan Deskripsi
Deskripsi dipungut dari bahasa inggris Description  yang tentu saja berbungan dengan kata to describe (melukiskan dengn bahasa). Karangan deskripsi merupakan karangan yang lebih menonjolkan aspek pelukisan sebuah benda bagaimana adanya.
8.3.2 Karangan Narasi
Istilah narasi berasal dari narration = cerita. Karangan narasi adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak-tunduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa serta kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu.
8.3.3 Karangan Eksposisi
Kata eksposisi yang dipungutb dari kata bahasa Inggris exposition sebenarnya berasal dari kata bahasa latin yang berarti membuka atau memulai. Memang karangan eksposisi  merupakan wacana yang bertujuan untuk memberikan tahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu.
8.3.4 Karangan Argumentasi
Tujuan utama karangan argumentasi adalah untuk menyakinkan pembaca agar menerima atau mengambil suatu doktrin, sikap, dan tingkah laku tertentu. Syarat utama untuk menulis karangan argumentasi adalah penulisan harus terampil dalam bernalar dan menyusun ide yang logis.
8.3.5 Karangan Persuasi
Dalam bahasa inggris kata to persuade berarti ‘membujuk’ atau ‘menyakinkan’. Bentuk nominanya adalah persuation yang kemudian menajdi kata pungut bahasa indonesia: persuasi. Karangan persuasi adalah karangan yang bertujuan membuat pembaca percaya yakin, dan terbujuk akan hal-hal yang dikomunikasikan yang mungkin berupa fakta, suatu pendirian umum, suatu pendapat/ gagasan ataupun perasaan seseorang.
8.3.6 Karangan Campuran

Selain juga dari karangan murni, misalnya eksposisi atau persuasi, sering ditemukan karanagan campuran atau kombinasi. Isinya dapat meruapakan gabungan eksposisi dengan deskripsi, atau eksposisi dengan argumentasi. Dalam wacana yang lain sering kata temukan narasi berperan sebagai ilustrasi bagi karangan eksposisi atau persuasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar