Sabtu, 11 Juni 2016

analisis kasus "guru di penjara gara-gara mencubit siswanya"



UJIAN AKHIR SEMESTER HUKUM DALAM PENDIDIKAN
UAS ini dibuat untuk memenuhi tugas Dr. Suryadi dan Dr. Desi Rahmawati, M.Pd Mata Kuliah Hukum Dalam Pendidikan

Disusun oleh:
Siti fatimatuzzahro
1445150049
Manajemen Pendidikan 2015 A


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2016




Analisis kasus “Guru di Penjara Gara-gara Mencubit Muridnya”

Dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Hukum Dalam Pendidikan dengan Dosen Dr. Suryadi dan Dr. Desi Rahmawati M.Pd saya selaku mahasiswa Manajemen Pendidikan ‘Siti Fatimatuzzahro’ akan menganalisis permasalahan guru di penjar lantaran mencubit anak muridnya.
Di dalam dunia pendidikan terjadi beberpa tahun belakangan ini, berita ini sudah tersebar luaskan di media. Berita ini sudah menjadi perhatian para masyarakat, dan banyak dari mereka yang yang membela guru tersebut. Karena hal ini bisa di bilang maslah kecil, tetapi beda halnya masalah ini malah semakin besar.
Dalam kasus ini seorang guru Biologi yang bernama Nurmayani  di SMP Negeri  1 Bantaeng  di penjara di duga berlaku kasar terhadap salah satu murid dengan cara mencubitnya lantaran si murid yang menolak untuk melaksanakan sholat dhuha. Selain itu si murid bercanda dengan temannya menggunakan air, dan air tersebut terkena baju nurmayani. Nurmayani merasa kesal di suruh sholat tidak mau tetapi malah bercanda bermain air sampai kena bajunya. Dikabarkan nurmayani tidak hanya mencubitnya  dia juga memukul anak didiknya itu hingga lebam. Anak didiknya ini adalah anak dari anggota Polres Kabupaten Kepulauan Selayar. Orang tua anak didik ini tidak terima di karenakan anaknya mengalami luka dan lebab. Dan akhirnya orang tua dari anak tersebut melaporkan guru yang beranama nurmayani ke pihak yang berwajib.
Dalam kasus ini dapat kita lihat bahwa seorang guru dengan muridnya.beda dengan halnya pada zaman terlebih dahulu, dahulu apabila kita salah di cubit itu hal yang biasa bagi si murid karena si murid mengakui karena dia salah dan ingin memperbaikinya lagi. Anak-anak itu di didik dengan bijak agar anak mempunyai mental yang kuat, keberanian, percaya diri, dan lain-lain. Tetapi beda dengan pendidikan zaman sekarang guru dengan anak muridnya malah bertolak belakang, si murid melakukan kesalahan guru malah membiarkannya, sekalinya mencubit malah di laporkan ke pihak yang berwajib. Disini orang tua juga berperan banyak, harus memantau anaknya, guru dan orang tua bekerja sama bagaimana anaknya itu bisa menjadi lebih baik bersekolah di sekolah ini, guru adalah orang tua mrid yang kedua setelah orang tua di rumah , jadi sebenarnya kalau sudah di sekolah anak murid ini tanggung jawab guru, mendidiknya agar menjadi lebih baik. Karena anak adalah aset bangsa ini.
Namun di karenakan negara kita ini katanya negara hukum, maka orang tua murid ini melaporkan si guru. Memang benar kekerasan pada dalam pendidikan tercantum pada PERATURAN MENTERI INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2015 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TINDAK KEKERASAN DI LINGKUNGAN SATUAN PENDIDIKAN. Di pasal 1 menjelaskanbahwa “Tindak kekerasan adalah perilaku yang di lakukan secara fisik,psikis, seksual, dalam jaringan (daring), atau melalui buku ajar yang mencerminkan tindakan agresifdan penyerangan yang terjadi di lingkungan satuan pendidikan dan mengakibatkan ketakutan, trauma, kerusakan barang, luka atau cedera, cacat dan bahkan samapai kematian.” Dalam kasus ini nurmayani sudah melakukan kekerasan yaitu mencubit dan memukul muridnya hingga luka dan lebam. Dan nurmayani terkena hukuman yang sudah tertera dalam pasal 80 UU NOMOR 23 Tahun 2002 yang berisi :
1) setiap orang melakukan kekejaman, kekerasan atau anacaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp. 72.000.000,00 ( tujuh puluh dua juta rupiah).
Terdapat juga di perlindungan anak, pada pasal 54 UU PERLINDUNGAN ANAK yang berbunyi : “ anak di dalamn lingkungan sekolah wajib di lindungi dari tindakan kekerasan yang di lakukan oleh guru, pengelola sekolah atau dengan teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.
Tetapi menurut saya tidak sepantasnya seorang guru di jebloskan masuk ke dalam penjara hanya karena masalah seperti ini. Dalam masalah ini menurut saya tidak adil bagi si guru, siswa tersebut di cubit lantaran guru mempunyai alasan, tidak mungkin seorang guru mencubit siswanya tanpa alasan. Orang tua si murid juga seharusnya sebelum menjebloskan si guru di ke dalam penjara ada baiknya orang tua juga menanyakan terlebih dahulu kronologis anaknya sampai bisa di cubit seperti ini. Pembelaan mengenai guru pun terdapat di perundang-undangan Indonesia. Pasal 39 UU NOMOR 14 tahun 2005  di jelaskan mengenai perlindungan guru dan dosen, yang di dalamnya membahas mengenai perlindungan terhadap guru.  Semua guru harus dilindungi secara hukum dari segala anomali atau tindakan semena-mena dari yang mungkin atau berpotensi menimpanya dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Perlindungan hukum di maksud meliputi perlindungan yang muncul akibat tindakan dari peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi atau pihak lain, berupa:
    a.    Tindakan kekerasan,
    b.    Ancaman, baik fisik maupun psikologis
    c.    Intimidasi, dan
    d.    Pelakuan tidak adil
Jika kita kaitkan dengan kasus di atas, maka orang tua sudah melanggar perlindungan guru dan juga dosen, dengan tuduhan yang semena-mena orang tua murid melaporkan guru kedalam penjara di karenakan anak tersebut di cubit. Tetapi guru itu mempunyai alasan mengapa anak tersebut di cubit karena perlakuan meraka yang tidak sopan terhadap gurunya. Seharusnya guru itu di hormati sebagimana kita menghormati orang tua kita sendiri di rumah. Hukum di sini tidak memandang bulu apa dia anak Polres, anak pejabat kalau anak tersebut melakukan kesalahan maka hukumannya sama seperti anak murid pada umumnya.
Kesimpulan pada kasus ini, Guru dan Murid sebenarnya sama-sama salah. Guru yang mencubit anak muridnya juga termasuk kekerasan. Guru ini sudah kesal anak muridnya ini sudah berlaku tidak sopan kepada gurunya.  Tetapi guru  jangan semena-mena dengan kedudukannya jangan menggunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Si anak juga tidak berperilaku mandiri dalam mengambil masalah ini, mental pada anak sudah hilang, si anak langsung mengadu pada orang tua, dan orang tua tidak terima langsung memasukan guru tersebut kedalam penjara. Tidak bisakah kasus ini di selesaikan secara Musyawarah secara kekeluargaan, antara orang tua murid dengan guru dan anaknya ini, karena kasus ini tergolong kasus kecil Dengan begitu tidak ada yang merasa tersakiti disini.

Sekian yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat bagi kita semua.

Minggu, 08 Mei 2016

Rangkuman Bahasa Indonesia

BAB 7
TOPIK, TEMA, TESIS, DAN KERANGKA KARANGAN
7.1 Pendahuluan
Jika seorang akan mengarang, biasanya yang pertama kali ditentukannya adalah tema. Tema sering dianggap orang sebagai sesuatu yang paling sentral dan sakral dalam urusan karang-mengarang, sedangkan topik dianggap tidak sesakral tema, dan pada umumnya dibicarakan kemudian.
Kalau kita amati, ada dua pemahan tentang tema yang berkembang di tengah masyarakat. Pertama, tema yang pendek.tema pendek umumnya berbentuk kata atau frasa, misalnya dikatakan suatu film atau lagu bertema cinta, dakwah, perjuangan, atau kesenjangan sosial. Kedua, tema yang panjang, biasanya berupa kalimat K-S-P-O (Keterangan-Subjek-Predikat-Objek), misalnya Dengan semangat Sportivitas Kita Sukseskan PON Ke-15; Melalui Kepedulian Sosial Kita Gencarkan GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh).
7.2 Topik dan Judul
Topik berarti pokok pembicaraan, pokok pembahasan, pokok permasalahan atau masalah yang dibicarakan. Topik karangan adalah suatau hal yang akan digarapkan menjadi karangan. Topik karangan merupakan jawaban atas pertanyaan Masalah apa yang akan di tulis/di bahas? Atau Hendak menulis/ membicarakan tentang apa?
Jika sesorang akan mengarang, dia terlebih dahulu harus memilih dan menetapkan topik karangannya. Sangat banyak permasalahan di sekitar kita yang dapat dijadikan topik: putus sekolah, pengangguran, kenaikan harga, keluarga berencana, polusi, kenakalan remaja, dan sebagainya. Ciri khas topik terletak pada permasalahannya yang bersifat umum dan belum terurai. Perlu diketahui, topik karangan ilmiah harus tentang sesuatu yang nyata, tidak boleh abstrak.
7.3 Tema dan Tesis
Tema berarti pokok pemikiran, ide, atau gagasan tertentu yang akan dituangkan oleh penulis dalam karangannya. Tema adalah sesuatu yang melatarbelakangi dan mendorong seseorang menuliskan karangannya. Dalam kasus kelangkaan BBM di tanah air kita, misalnya, seseorang yang mengetahui penyebab kelangkaan itu ingin membagi “pengetahuannya” itu kepada pembaca. Dalam tulisannya ia akan menuangkan pokok pemikirannya untuk mengatasi kelangkaan tersebut. Pokok pemikiran itulah yang disebut tema. Penetapan tema sebelum mengarang sangat penting sebagai pedoman menulis karangan secara teratur sehingga isi karangan tidak menyimpang dari tujuan yang ditetapkan.
Jika seseorang memikirkan sesuatu (tema) tentulah terkandung maksud, tujuan, atau sasaran tertentu yang ingin dicapainya. Maksud dan tujuan itu disebut dengan tesis. Tesis adalah pernyataan singkat tentang maksud dan tujuan penulis. Karena itu, tesis sering juga disebut dengan pengungkapan maksud. Tesis harus lugas sehingga perlu diungkapkan dalam satu kalimat lengkap. Dalam karangan ilmiah murni, tesis sering disebut dengan istilah hipotesis, yaitu pertanyataan yang masih rendah, dan oleh karana itu perlu dibuktikan kebenerannya.
Perhatikan contoh di bawah ini:
1.    Topik: cara mengemukakan pendapat yang Efektif.
Tesis: mengemukakan pendapat haruslah secara logis dan sistematis dengan menggunakan bahasa yang tepat.
2.    Topik: dampak buruk Aborsi
Tesis: Aborsi berdampak buruk ditinjau dari sudut pandang kesehatan, moral, dan agama.
7.3 Kerangka (Outline) Karangan
Kerangka karanagan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Fungsi utama kerangka adalah untuk mengatur hubungan antara gagasan-gagasan. Melalui kerangka karangan, pengarang dapat melihat kekuatan dan kelemahan dalam perencanaan karangannya. Dengan cara ini pengarang dapat mengadakan penyesuaian sebelum menulis (bandingkan dengan blueprint atau cetak biru pembangunan gedung).
Kerangka karangan mengandung rencana kerja menyusun karangan. Kerangka akan mengarahkan penulis menggarap karangan secara teratur. Kerangka juga akan membantu penulis membedakan antara ide utama dan ide tambahan.
Kerangka karangan dapat mengalami perubahan terus menurus utuk mencapai suatu bentuk yang sempurna. Kerangka karangan juga dapat berbentuk catatan-catatan sederhana, tetapi dapat juga mendetail. Kerangka yang belum final disebut outline sementara, sedangkan kerangka yang sudah tersusun rapih, dan lengkap disebut dengan outline final atau kerangka mantap.
7.4.1 Bentuk Kerangka Karangan
Bentuk kerangka karangan ada dua macam (1) kerangka topik, (2) kerangka kalimat. Dalam praktik pemakaian yang banyak dipakai adalah kerangka topik.
Kerangka topik terdiri atas kata, frasa, dan klausa yang ditandai dengan kode yang sudah lazim untuk menyatakan hubungan antar gagasan. Tanda akhir baca (titik) tidak diperlukan karena kalimat lengkap tidak dipakai dalam kerangka topik.
Kerangka kalimat lebih bersifat resmi dan unsur-unsurnya tampil berupa kalimat lengkap. Pemkaian kalimat lengkap menunjukan diperlukan pemikiran yang lebih luas dan lebih rinci dibandingkan dengan kerangka topik. Tanda baca titik harus dipakai diakhir setiap kalimat untuk menuliskan judul bab dan subbab. Kerangka kaliamt banyak dipakai pada proses awal penyusunan outline. Bila outline telah selesai, kerangka kalimat itu dapat dipadatkan menjadi kerangka topik, demi kepraktisan. Jadi, kerangka dapat saja berbentuk gabungan kerangaka kaliamat dan kerangka topik. Walaupun pemakian kerangka topik lebih dominan, tidaklah dipantagkan penulisan judul judul bab yang panjang.
7.4.2 Pola PenyusunannKerangka Keterangan
Ada dua pola yang lazim dipakai untuk menyusun kerangka karangan yaitu, (1) pola alamiah, (2) pola logis.
7.4.2.1 Pola Alamiah
Penyususnan kerangka karanagan yang berpola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan waktu. Oleh karena itu urutan bab dan subbab dalam kerangka berpola alamiah dapat dibagi dua, yaitu (1) urutan ruang (spasial), (2) urutan waktu (temporal). Yang dimaksud dengan urutan ruang adalah pola penguraian yang menggambarkan keadaan suatu ruang: dari kiri kanan, dari atas kebawah, dan seterusnya; sedangakan urutan waktu adalah penguraian berdasarkan urutan kejadian suatau peristiwa atau rangkaian peristiwa secara kronologis.
7.4.2.2 Pola Logis
Pola logis memakai pendekatan berdasarkan cara berpikir manusia. Cara berpikir ada beberapa macam dan pendekatannya berbeda-beda bergantung pada sudut pandang dan tanggapan penulis terhadap topik yang akan ditulis. Itulah sebanya dalam kerangka berpola logis timbul variasi penempatan unit-unit. Adapun macam-macam urutan logis adalah klimaks-antiklimaks, sebab-akibat, pemecahan masalah, dan umum-khusus. Kiranya macam-macam urutan pola logis itu tidak perlu lagi dijelaskan disini satu persatu beserta lawan atau kebalikannya. Dengan memperhatikan contoh kerangka karangan urutan klimaks, misalnya dengan mudah dapat kita bayangkan urutan anti klimaks; demikianlah urutan pasangan yang lainnya.

BAB 8
PENULISAN KARANGAN
8.1 Pengertian Mengarang dan Karangan
Pada awalnya kata merangkai tidak berkaitan dengan kegiatan menulis. Cakupan makna kata merangkai mula-mula terbatas pada pekerjaan yang berhubungan dengan benda konkret-konkret merangkai bungan atau merangkai benda lain. Sejalan dengan kemanjuan komunikasi dan bahasa, lama-kelamaan timbul istilah merangkai kata. Lalu berlanjut dengan merangkai kalimat; kemudian jadilah apa yang disebut pekerjaan mengarang. Orang yang merangkai atau menyusun kata, kalimat, dan alenia tidak disebut perangkai, tetapi penyususn atau pengarang untuk membedakannya misalnya engan perangkai bunga. Mengingat karangan tertulis juga disebut tulisan (hasil menulis), kemudian timbullah sebutan penulis untuk orang yang menulis suatu karangan.
Sebenarnya mengarang tidak hanya dan tidak harus tertulis. Seperti halnya berkomunikasi, kegiatan mengarang yang juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya dapat berlangsung secara lisan. Seseorang yang berbicara, misalnya dalam sebuah diskusi atau berpidato secara serta merta (improtu), otaknya terlebih dahulu harus mengarang sebelum mulutnya berbicara. Pada saat berbicara, sang pembicara itu sebenarnya “ bekerja keras” mengorganisasikan isi pembicaraan agar teratur, terarah/terfokus, sambil memikirkan susunan kata, pilihan kata, struktur kalimat; bahkan cara penyajiannya (misalnya deduktif atau indukatif; klimaks atau antiklimaks). Apa yang didengar atau yang ditangkap orang dari penyajian lisan itu, itulah karangan lisan. Akan tetapi, karena tujuan penguraian dalam bab ini terutama mengenai karangan lisan tidak dilanjutkan di dalam buku ini. Uraian singkat tentang mengarang secara lian tadi dimaksudkan untuk membantu pemahaman makna kita mengarang.
8.2 Penggolongan Karangan Berdasarkan Bobot Isinya
8.2.1 Karangan Ilmiah, Semi Ilmiah, dan Non Ilmiah
Berdasarkan bobot isinya, karangan dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu (1) karangan ilmiah, (2) karangan semiilmiah atau ilmiah populer, (3) karangan nonilmiah atau tidak ilmiah. Contoh karangan yang tergolong sebagai karangan ilmiah antara lain makalah, skripsi, tesis, disertasi, yang tergolong karangan semiilmiah antara lain artikel, berita, editorial feature, laporan, opini, tip; dan yang tergolong karangan nonilmiah antara lain anekdot, cerpen, dongeng, hikayat, naskah drama, novel, puisi.
8.2.2 Ciri Karangan Ilmiah dan SemiIlmiah
Sebelum merinci ciri karangan ilmiah dan semiilmiah, ada baiknya jika kita pahami terlebih dahulu batasan dua jenis karangan tersebut. Karangan ilmiah adalah tulisan yang berisikan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulis yang formal dengan sistematis-metodis, dan sintesis-analitis (Suriasumantri, 1995:307). Adapun karangan semiilmiah adalah tulisan yang berisikan informasi faktual yang diungkapkan dengan bahasa semi formal, namun tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering “dibumbui” open pengarangnya yang terkadang subjektif.
Ciri karangan ilmiah minimal ada tiga. Pertama, karangan ilmiah harus merupakan pembahasan suatu yang penelitian (faktual objektif). Faktual objektif berarti faktanya sesuai dengan objek yang diteliti. Kesesuaian ini harus dibuktikan dengan pengamatan atau empiri. Objektif juga mengandung pengertian adanya sikap jujur dan tidak memihak serta memakai ukuran umum dalam menilai sesuatu, bukan ukuran yang yang subjektif (selera perseorangan). Kedua,karangan ilmiah bersifat metodis dan sistematis. Artinya teknis penulisannya menggunakan cara tertentu dengan langkah-langkah teknis yang teratur (sitematis) dan terkontrol melalui proses pengidentifikasian masalah, pembahasan (analisis), sampai penarikan simpulan. Ketiga, bahasa  karangan ilmiah selalu menggunakan laras ilmiah. Laras ilmiah harus baku dan formal. Selain itu, laras ilmiah bersifat lugas agar tidak menimbulkan penafsiran dan makna ganda (ambigu).
8.3 Penggolongan Karangan Berdasarkan Cara Penyajian dan Tujuan Penulisan
Berdasarkan cara penyajian dan tujuan penulisannya, karangan dapat dibedakan atas enam jenis, yaitu
1.    Deskripsi (perian)
2.    Narasi(kisahan)
3.    Eksposisi (paparan)
4.    Argumentasi (bahasan)
5.    Persuasi (ajakan)
6.    Campuran/kombinasi
8.3.1 Karangan Deskripsi
Deskripsi dipungut dari bahasa inggris Description  yang tentu saja berbungan dengan kata to describe (melukiskan dengn bahasa). Karangan deskripsi merupakan karangan yang lebih menonjolkan aspek pelukisan sebuah benda bagaimana adanya.
8.3.2 Karangan Narasi
Istilah narasi berasal dari narration = cerita. Karangan narasi adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha menciptakan, mengisahkan, merangkaikan tindak-tunduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa serta kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu.
8.3.3 Karangan Eksposisi
Kata eksposisi yang dipungutb dari kata bahasa Inggris exposition sebenarnya berasal dari kata bahasa latin yang berarti membuka atau memulai. Memang karangan eksposisi  merupakan wacana yang bertujuan untuk memberikan tahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu.
8.3.4 Karangan Argumentasi
Tujuan utama karangan argumentasi adalah untuk menyakinkan pembaca agar menerima atau mengambil suatu doktrin, sikap, dan tingkah laku tertentu. Syarat utama untuk menulis karangan argumentasi adalah penulisan harus terampil dalam bernalar dan menyusun ide yang logis.
8.3.5 Karangan Persuasi
Dalam bahasa inggris kata to persuade berarti ‘membujuk’ atau ‘menyakinkan’. Bentuk nominanya adalah persuation yang kemudian menajdi kata pungut bahasa indonesia: persuasi. Karangan persuasi adalah karangan yang bertujuan membuat pembaca percaya yakin, dan terbujuk akan hal-hal yang dikomunikasikan yang mungkin berupa fakta, suatu pendirian umum, suatu pendapat/ gagasan ataupun perasaan seseorang.
8.3.6 Karangan Campuran

Selain juga dari karangan murni, misalnya eksposisi atau persuasi, sering ditemukan karanagan campuran atau kombinasi. Isinya dapat meruapakan gabungan eksposisi dengan deskripsi, atau eksposisi dengan argumentasi. Dalam wacana yang lain sering kata temukan narasi berperan sebagai ilustrasi bagi karangan eksposisi atau persuasi.

Sabtu, 09 April 2016

Bahasa Indonesia



SOAL LATIHAN DIKSI
  1.    Forum komunikasi ilmiah merupakan... perdebatan para intelektual.
Jawaban:
  2.    Angkatan udara menggempur ... pertahanan musuh.
Jawaban: D. Basis.
  3.    Sekalipun disiksa, pejuang sejati tidak mau ... kepada negerinya.
Jawaban: A. Berkhianat
  4.    Pergunakanlah timbangan yang sudah ada tanda ... nya.
Jawaban: B. Merek
  5.    Resapilah ... demi ... sajak itu.
Jawaban: C. Larik
  6.    Sebelum meninggal dunia, orang tuanya sudah ... sebidang tanah didepan rumah mereka untuk dijadikan masjid.
Jawaban: C. Mewakafkan
  7.    ... semester ini akan kugunakan untuk berkunjung kerumah nenek.
Jawaban: B. Libur
  8.    Istilah yang tepat untuk perdebatan tertulis melalui media masa (koran,majalah) adalah...
Jawaban: A. Rubrik
  9.    Istilah yang tepat untuk ‘air terjun yang rendah’ adalah...
Jawaban: D. Jeram
 10. Pak ridwan sedang ... Bahasa Indonesia kepada muridnya.
Jawaban: Mengajar
 11. Kita berharap pemilu kali ini berjalan dengan baik. Untuk itulah kita perlu melakukan persiapan dengan matang.
Jawaban: C. Karena itulah
 12. Rombongan tamu sudah datang. Acara sudah boleh diawali.
Jawaban: C. Mulai
 13. Akibat banjir Bengawan Solo, banyak rumah-rumah terendam.
Jawaban: B. Banyak rumah
 14. Akhir kata, saya mengucapkan selamat malam, dan sampai jumpa lagi.
Jawaban: C.Berjumpa
 15. Masing-masing peserta ujian diwajibkan menandatangani daftar hadir.
Jawaban: B. Wajib mendatangani
 16. Terimakasih atas partisipasi para hadirin. Sampai bertemu lagi di lain kesempatan.
Jawaban:
 17. Berbagai kerja sama antara pemerintah dan swasta telah sekarang, pengadaan listrik pun ada yang diserahkan ke pihak swasta.
Jawaban: C. Kepada
 18. Dalam urusan cinta, bukan saya yang tidak mau tetapi dia yang tidak suka.
Jawaban: C. Melainkan
 19. Saya sangat senang menerima Anda. Terimakasih atas kunjungannya.
Jawaban: D. Kunjungan anda
  20. Dalam hal membaca kreatif tidak sekedar kegiatan menangkap makna bahan bacaan, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah...
Jawaban: B. Kegiatan membaca kreatif tidak sekedar menerapkan
  21. Penggunaan kata dalam kalimat berikut ini kurang tepat, kecuali...
Jawaban: A. Para kariyawan harus saling membantu dalam pekerjaan
  22. Penggunaan dimana pada kalimat ini benar, kecuali...
Jawaban: D. Yogyakarta merupakan kota budaya di mana saya pernah tinggal.
  23. Penggunaan daripada benar dalam kalimat...
Jawaban: D. Hasil pekerjaannya lebih baik daripada pekerjaanmu.
  24. Penggunaan yang mana pada kalimat ini benar, kecuali...
Jawaban: D. Uang yang mana ia peroleh akan digunakannya untuk membeli buku
  25. Kata-kata yang mubazir terdapat dalam kalimat ...
Jawaban: A. Pengusaha kaya rela membeli tanah dengan harga yang sangat mahal sekali
  26. Pemakaian kata maka yang tepat terdapat dalam kalimat ...
Jawaban: C. Dengan demikian, maka berakhirlah acara ini
  27. Pendidikan tidak hanya diberikan di sekolah secara formal, tetapi juga secara praktis dan nyata dirumah-rumah. Makna kata formal dalam kalimat tersebut adalah...
Jawaban: D. Sesuai dengan peraturan yang sah
  28. Pemakaian kata berpasangan yang benar terdapat dalam kalimat ...
Jawaban: B. Baik kakak maupun adiknya sama-sama juara tenis
  29. Istilah take of dalam dunia penerbangan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi..
Jawaban: B. Lepas landas
  30. Slimming center diindonesiakan menjadi...
Jawaban: B. Pusat pelangsingan
Soal B
   A.   Koreksilah naskah di bawah ini dengan memperhatikan EYD serta diksi yang tepat.
   B.   Perbaiki kata-kata yang tidak baku menjadi kata yang baku menurut kaidah bahasa Indonesia.
   C.   Terjemahkanlah kata-kata asing yang terdapat dalam naskah itu ke dalam bahasa Indonesia.
Jawaban :
Pada tanggal 14 November 2005 saya mendapat tugas Dinas ke Makasar. Karena Maskapai penerbangan Lion Air memiliki jadwal penerbangan paling pagi maka kami memutuskan naik pesawat ini. Meskipun ada rasa takut mengingat beberapa kecelakaan yang terjadi terhadap Lion Air tapi kami yakin pihak management tentunya tidak membiarkan kepercayaan publik luntur.
Sekitar pukul 05:30 WIB kami lepas landas. Sepanjang perjalanan saya mengharapkan mengalami perjalanan yang menyenangkan. Akan tetapi, keinginan itu tinggal harapan saja. Mulai dari menginjakkan kaki dipintu pesawat sampai pembagian makanan ringan dan minuman tidak saya jumpai senyum ramah diwajah pramugarinya. Sampai saya ketumpahan sisa teh manis pun tidak ada kata maaf yang saya dengar dari sang Pramugari. Akhirnya dengan setengah berteriak untuk meminta tissue barulah kata maaf tersebut saya dengar. Saya sangat kecewa dengan pelayanan Lion Air. Untuk pihak manajemen yang terus yang erus membangun kepercayaan publik, jangan abaikan kenyamanan penumpang sedangkan untuk para Pramugari cobalah ingat kembali komitmen anda ketika pertama kali menerima pekerjaan ini. Bersikaplah profesional. Berikan senyum anda. Saya kira hanya dengan memberikan senyum anda tidak akan dirugikan.   



BAB 5
KALIMAT
5.1 Pendahuluan
            Kalimat merupakan primadona dalam kajian bahasa. Hal ini disebabkan antara lain dengan perantaraan kalimatlah seseorang dapat menyampaikan maksudnya secara lengkap dan jelas. Kalimat adalah bagian ujaran/tulisan yang mempunyai struktur minimal subjek (S) dan predikat (P), dan intonasi finalnya menunjukan bagian ujaran/tulisan itu sudah lengkap dengan makna (bernada berita, tanya, atau perintah). Lengkap dengan makna menunjukan sebuah kalimat harus mengandung pokok pikiran yang lengkap sebagai pengungkapan maksud penulis atau penuturnya.
5.2 Unsur Kalimat
            Unsur kalimat adalah fungsi sintaksis yang dalam buku-buku tata bahasa lama disebut jabatan kata dalam kalimat, kini istilah itu diganti menjadi fungsi sintaksis kalimat, yakni subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), keterangan (Ket). Untuk mengenali “wajah” S, P, O, Pel, Ket, dan sebelumnya membahas kelima fungsi sintaksis itu satu per satu, berikut ini ditampilkan lima contoh kalimat yang S, P, O, Pel, dan Ket-nya berbentuk frasa:
(S) Pembawa acara yang kocak itu // membeli // bunga.
(P) Indra // adalah pembawa acara yang kocak.
(O) Madonna // menelpon // pembawa acara yang kocak itu.
(Pel) Pesulap itu // menjadi // pembawa acara yang kocak
(Ket) Si fulan // pergi // (dengan) pembawa acara yang kocak itu.
5.2.1 Predikat
            Predikat adalah bagian kalimat yang fungsinya memberi tahu tindakan/perbuatan apa yang dilakukan oleh Subjek (S) yaitu sang pelaku/sosok/tokoh sentral dalam kalimat. Perhatikan contoh ini.
1.    Kuda merumput.
2.    Ibu sedang tidur siang.
3.    Putri Indonesia cantik jelita.
4.    Kota jakarta dalam keadaan aman.
5.    Kucingku belang tiga.
Bagian kalimat yang dicetak tebal dalam contoh adalah predikat (P).
5.2.2 Subjek
            Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukan pelaku, tokoh, sosok, sesuatu hal, atau seatu masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Sebagian besar S diisi oleh kata benda/frasa nominal, klausa, atau frasa verbal. Perhatikan contoh berikut ini.
1.    Ayahku sedang menulis.
2.    Meja direktur besar.
3.    Yang berbaju batik dosen saya.
4.    Berjalan kaki menyehatkan badan
5.    Membangun jalan layang sangat mahal.
Kata-kata yang bercetak tebal pada kalimat diatas adalah subjek (S). Kaidah bahasa Indonesia menyaratkan setiap kata, frasa, dan klausa pembentuk S harus merujuk pada benda (konkret atau abstrak).
5.2.3 Objek
            Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Objek pada umumnya diisi oleh nominal, atau kalusa. Letak O selalu di belakang P yang berupa verba sensitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O. Perhatikan contoh dibawah ini.
1.    A. Nurul meminang ...
B. Arsitek merancang ...
C. Juru memasak menggoreng ...
Verba transitif menimang, merancang, dan menggoreng pada contoh adalah P yang menuntut untuk dilengkapi. Unsur yang akan melengkapi P ketiga kalimat itulah yang dinamakan objek.
Jika P diisi oleh verba intrasitif, O tidak diperlukan. Itulah sebabnya sifat O dalam kalimat dikataklan O dalam kalimat dikatakan tidak wajib hadir. Perhatikan contoh tidak menuntut untuk dilengkapi.
2.    A. Nenek mandi
B. Komputerku rusak
C. Tamunya pulang
5.2.4 Pelengkap
            Pelengkap (Pel) atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Letak Pel umumnya di belakang P yang berupa verba. Perhatikan contoh ini.
1.    Ketua MPR (S)  // membacakan (P)  // pancasila (O)
2.    Banyak orsospol (S) // berlandaskan (P) // panacasila (Pel)
Kedua kalimat aktif yang Pel dan O-nya sama-sama nomina pancasila, jika hendak dipasifkan ternyata yang bisa hanya kalimat yang kedua.
5.2.5 Keterangan
            Yang dimaksud dengan keterangan (Ket) dalam sebuah kalimat adalah bagian kalimat yang menerangkan seluruh kalimat. Posisi keterangan dapat berupa adverbia, frasa nominal, frasa preposisional, atau klausa. Perhatikan contoh dibawah ini.
1.    Antono menjilid makalah kemarin pagi
2.    Antono kemarin pagi menjilid makalah
3.    Kemarin pagi antono menjilid makalah
Frasa kemarin pagi adalah keterangan untuk antono menjilid makalah. Berdasarkan maknanya terdapat bermacam-macam Ket dalam kalimat. Para ahli membagi Ket yang penting atas sembilan macam ( Hasan Alwi dkk,2003:366). Perhatikan contoh dibawah ini. Lihat letak/posisi keterangannya.
1.    Diana mengambil air minum dari kulkas (ket. Tempat)
2.    Rustam Lubis sudah tiga bulan belajar melukis (ket.  Waktu)
3.    Lia memotong tali dengan gunting (ket. Alat)
4.    Anak yang baik itu rela berkorban demi orang tuanya (ket. Tujuan)
5.    Polisi menyelidiki masalah narkoba secara hati-hati (ket. Cara)
6.    Amir pergi bersama teman-teman sekantornya menonton drama (ket. Peserta)
7.    Mahasiswa fakultas hukum berdebat bagaikan pengacara (ket.similatif/kemiripan)
8.    Karena malas belajar, mahasiswa itu tidak lulus ujian (ket. Sebab)
9.    Murid TK berpegangan tangan satu sama lain sambil bernyanyi gembira (ket.kesalingan)
5.3 Pola kalimat Dasar
            Kalimat dasar bukanlah nama jenis kalimat, melainkan acuan atau patron untuk membuat berbagi tipe kalimat. Kalimat dasar terdiri atas beberapa struktur yang dibentuk dengan lima unsur fungsi sintaksis: S, P, O, Pel, Ket.
1.    Kalimat Dasar Tipe S-P
Dalam kalimat bertipe S-P, predikatnya lazim diisi oleh verba transitif atau frasa verba. Akan tetapi, ada pula pengisi P berupa nomina, ajektiva, frasa nominal, dan frasa ajektival seperti terlihat dalam contoh di bawah ini:
a.    Lina (S) tersenyum (P).
b.    Lina, anak pak Hadi, (S) tersenyum manis (P).
c.    Masinis kereta itu (S) sahabat karib saya (P)
d.    Para pengungsi (S) terlantar(P)
2.    Kalimat Dasar Tipe S-P-O
Predikat dalam kalimat bertipe S-P-O diisi oleh verba transitif yang memerlukan dua pendamping, yakni S (disebelah kiri) dan O (disebelah kanan). Jika salah satu pendamping itu tidak hadir, kalimatnya tidak gramatikal.
a.    AC Milan (S) mengalahkan (P) Barcelona (O)
b.    Korea Utara (S) telah mematuhi (P) seruan PBB (O)
c.    Slobodan Milosevic (S) meculik (P) lawan politiknya (O)
3.    Kalimat Dasar Tipe S-P-Pel
Seperti halnya kalimat tipe S-P-O, kalimat tipe S-P-Pel mempunyai P yang memerlukan dua pendamping, yakni S (di sebelah kiri) Pel (di sebelah kanan).
a.    Negara kita (S) berlandaskan (P) hukum (Pel)
b.    Keputusan hakim (S) sesuai (P) dengan tuntutan jaksa (Pel)
c.    Gamelan (S) merupakan (P) ciri kesenian tradisional (Pel)
4.    Kalimat Dasar Tipe S-P-Ket
Predikat kalimat bertipe S-P-Ket menghendaki dua pendamping yang berupa S (disebelah kiri) dan Ket (disebelah kanan).
a.    Amien Rais (S) tinggal (P) di yogyakarta (Ket)
b.    Sayur mayur (S) didatangkan (P) dari Bogor dan sekitarnya (Ket)
c.    Anak tetangga saya (S) mahasiswa (P) seni rupa (Ket)
5.    Kalimat Dasar Tipe S-P-O-Pel
Predikat kalimat tipe S-P-O-Pel menuntut kehadiran tiga pendamping agar konstruksinya menjadi gramatikal.
a.    Mahasiswa (S) mengirimi (P) jaksa agung (O) ayam betina (Pel)
b.    Yuni (S) membelikan (P) adiknya (O) sepeda mini (Pel)
c.    Felicia (S) menghadiahi (P) pacarnya (O) jam tangan Rolex (Pel)
6.    Kalimat Dasar Tipe S-P-O-Ket
Ada tiga pendamping yang diperlukan oleh P dalam kalimat yang bertipe S-P-O-Ket, yakni S (di sebelah kiri), O dan Ket (di sebelah kanan).
a.    Mereka (S) memperlakukan (P) saya (O) dengan sopan (Ket)
b.    Melanie (S) memasukan (P) bungkusan itu (O) kedalam mobil (Ket)
c.    Prof. Harun (S) melatih (P) dosen (O) difakultas hukum (Ket)
Dalam berbagai kalimat yang mengisi keenam tipe kalimat dasar pada contoh kembali terlihat satuan bentuk yang mengisi unsur S, P, O, Pel, dan Ket bukan hanya kata, melainkan juga frasa dan klausa.
5.4 Jenis Kalimat
            Kalimat dapat dibedakan menjadi beberapa jenis berdasarkan (A) jumlah klausa pembentuknya , (B) bentuk/fungsi isinya, (C) kelengkapan unsurnya, dan (D) susunan subjek predikatnya.
5.4.1 Jenis Kalimat Berdasarkan Jumlah Klausanya
            Berdasarkan umlah klausa pembentukannya, kalimat dapat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) kalimat tunggal, (2) kalimat majemuk.
(1)  Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu klausa. Karena klausanya yang tunggal itulah kalimatnya dinamai kalimat tunggal. Berdasrkan jenis kata/frasa pengisi P-nya, kalimat tunggal dapat dipilah menjadi empat macam, kalimat-kalimat tunggal itu dapat diberi label tambahan sesuai dengan jenis katanya atau frasanya yang mengisi unsur P-nyamasing-masing. Contoh berikut ini adalah empat tunggal yang diberi lebel nominal, ajektival, verba, dan numeral.
a.    Kami (S) mahasiswa Indonesia (P) (kalimat nominal)
b.    Jawaban anak pintar itu (S) sangat tepat (P) ( kalimat ajektival)
c.    Sapi-sapi (S) sedang merumput (P) ( kalimat verbal)
d.    Mobil orang kaya itu (S) ada delapan (P) (kalimat numeral )
(2)   Kalimat Majemuk
Kalimat majemuk adalah kalimat yang merupakan gabungan dua atau lebih kalimat tunggal. Hal itu berarti dalam kalimat majemuk terdapat lebih dari satu klausa. Perhatikan contoh di bawah ini.
1.    Seorang manajer (S) harus mempunyai (P) wawasan yang luas (O1) dan harus menjunjung tinggi (P2) etika profesi (O2)
2.    Anak-anak (S1) bermain (P1) layang-layang (O1) dihalaman kampus (Ket) ketika para dosen, kariyawan, dan mahasiswa (S2)  menikmati (P2) hari libur (O2)
Kalimat majemuk dibagi menjadi dua (a) kalimat majemuk setara (b) kalimat majemuk bertingkat.
a.    Kalimat Majemuk Setara
Kalimat majemuk setara mempunyai ciri (1) terbentuk dari dua atau lebih kalimat tunggal, (2) kedudukan tiap kalimat sederajat. Contoh kalimat majemuk setara.
(1)   Erni mengkonsep surat itu dan rini mengetiknya.
(2)   Yusril rajin membaca, baik ketika menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi pegawai.
(3)   Muridnya kaya, tetapi ia sendiri miskin.
b.    Kalimat majemuk bertingkat
Kontruksi kalimat majemuk bertingkat berbeda dengan kalimat majemuk setara. Perbedaannya terletak pada derajat klausa pembentuknya yang tidak setara karena klausa kedua merupakan perluasan dari klausa pertama. Karena itu, konjungtor kalimat majemuk bertingkat berbeda dengan konjungtor kalimat majemuk setara. Contoh kalimat majemuk bertingkat.
a.    Dia datang ketika kami sedang rapat.
b.    Lalu lintas akan teratur andaikata pemakai jalan disiplin tinggi.
c.    Anda harus bekerja keras agar berhasil.
5.4.2 Jenis Kalimat Berdsarkan Fungsinya
            Kalimat dapat difungsikan untuk menyampaikan pokok pikiran secara lengkap dan jelas, misalnya memberi tahu, bertanya, menyeru tentang sesuatu. Kata dan frasa yang tatarannya berada di bawah kalimat memang dapat mengungkapkan makna, tetapi tidak dapat di pakai menyampaikan pokok pikiran secara lengkap dan jelas, kecuali jika kata dan frasa itu sedang berperan sebagai kalimat. Contohnya adalah ketika menjawab pertanyaan secara singkat yang dapat berwujud kata dan frasa, namun berperan sebagai kalimat, misalnya (1) tidak (2) tidak tahu (3) setuju.
            Berdasarkan kategori sintaksisnya, dalam buku Tata Buku Bahasa Indonesia (2003:378), para ahli membedakan kalimat atas empat maca, yaitu (1) kalimat berita (deklaratif),  (2) kalimat tanya (interogratif), (3) kalimat perintah (imperatif) dan (4) kalimat seru (ekslamatif).
(1)  Kalimat Berita
Kalimat berita adalah kalimat yang di pakai oleh penutur/penulis untuk memberitakan sesuatu. Variasi kalimat berita bersifat bebas, boleh inversi atau versi, aktif atau pasif, tunggal atau majemuk. Yang terpenting isinya pemberitaan. Contoh:
a.    Pembagian beras gratis dikampungku dilakukan kemarin pagi.
b.    Perayaan HUT ke-65 RI berlangsung meriah.
c.    Tadi siang terjadi tabrakan beruntun di jalan Tol Jagarawi.
(2)  Kalimat Tanya
Kalimat tanya adalah kalimat yang di pakai oleh penutur/penulis untuk memperoleh informasi atau reaksi berupa jawaban yang diharapkan dari mitra komunikasinya. Contoh:
a.    Apakah barang ini milik Saudara?
b.    Kapan kakakmu berangkat ke Australi?
c.    Siapa tokoh pendiri perguruan Taman Siswa?
Kalimat tanya diakhiri dengan kata belum, bukan, dan tidak, disebut kalimat tanya embelan (Alwi,2003:360). Contoh kalimat tanya embelan :
a.    Kakakmu sudah diwisuda, bukan ?
b.    Kamu sudah makan, atau belum?
c.    PR-mu dapat kamu kerjakan, atau tidak ?
(3)  Kalimat Perintah
Kalimat perintah dipakai jika penutur ingin menyuruh atau melarang orang berbuat sesuatu. Pada bahasa lisan kalimat perintah berintonasi akhir menurun dan pada bahasa tulis kalimat ini diakhiri dengan tanda seru atau tanda titik.
Kalimat perintah halus:
a.    Tolonglah bawa sepeda motor ini ke bengkel
b.    Silahkan kamu kebelekang sekarang.
Kalimat perintah langsung:
a.    Pergilah kamu sekarang!
b.    Ayo, cari buku itu sampai dapat!
Kalimat perintah larangan langsung:
a.    Kamu jangan pergi sekarang!
Kalimat perintah larangan halus:
a.    Terimakasih karena anda sudah tidak merokok!
Kalimat perintah permintaan:
a.    Minta perhatian, anak-anak!
Kalimat perintah permintaan/permohonan:
a.    Mohon hadiah ini bapak terima.
Kalimat perintah ajakan dan harapan:
a.    Ayolah, kita belajar.
Kalimat perintah pembiaran:
a.    Biarkanlah dia disini sebentar.
(4)  Kalimat Seru
Kalimat seru dipaki oleh penutur untuk mengungkapkan perasaan emosi yang kuat, termasuk kejadian yang tiba-tiba dan memerlukan reaksi spontan. Contoh :
a.    Aduh, pegangan saya terlepas!
b.    Hai, ini dia orang yang kita cari!
c.    Wah, pintar benar anak itu!
5.4.3 Kalimat Tidak Lengkap (Kalimat Minor)
Di dalam bahasa tulis, lebih-lebih dalam bahasa lisan, kadang-kadang kalimat ditampilkan dengan unsur yang tidak lengkap. Kalimat yang tidak ber-P atau ber-S disebut kalimat tidak lengkap atau kalimat minor. Lawannya, yaitu kalimat yang lengkap unsurnya, disebut kalimat mayor. Perhatikan contoh kalimat minor ini.
a.    Mila: ada siapa didalam?
Maya: Ibu.
Mila: apa ibu sudah tahu rencana kita?
Maya: belum.
5.5 Kalimat Inversi
            Kalimat inversi adalah kalimat yang P-nya mendahului S sehingga terbentuk pola P-S. Selain merupakan variasi dari pola S-P, ternyata kalimat inversi dapat memberi penekanan atau ketegasan makna tertentu. Contoh kalimat inversi berikut ini.
a.    Menangis (P) pacarku (S) karena sedihnya.
b.    Berlari (P) adik (S) mengejar layangan putus
c.    Matikan (P) televisi itu (S)
5.5 Kalimat Efektif
            Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan maksud penutur/oenulis secara tepat sehingga maksud itu dapat dipahami oleh pendengar/pembaca secara cepat pula. Efektif dalam hal ini adalah ukuran kalimat yang mampu menjembatani timbulnya pikiran yang sama antara penulis/penutur dan pembaca/pendengar.
            Untuk dapat mencapai keefektifan tersebut, kalimat efektif harus memenuhi paling tidak enam syarat, yaitu adanya/terdapat (1) kesatuan, (2) kepaduan, (3) keparalelan, (4) ketepatan, (5) kehematan, (6) kelogisan.
5.6 Beberapa Kasus Kalimat Tidak Efektif
            Dalam kehidupan bermasyarakat kadang-kadang kita mendengar orang-orang disekitar kita berbicara satu sama lain memakai kalimat yang tidak efektif. Perhatikan contoh kalimat yang dimaksud.
a.    *bagi yang menitip sepeda motor harus di kunci.
b.    *bagi dosen yang berhalangan hadir harap diberitahukan sekretariat.
c.    *saya melihat kelakuan anak itu bingung.
d.    *mereka mengantar iring-iringan jenazah ke kuburan.
e.    *bebas parkir.
f.     *tempat pendaftaran tinja.

Ada tiga kesalahan yang dapat dideteksi dan keenam contoh kalimat tidak efektif itu. Pertama, ada kalimat yang dapat dipahami maknanya, tetapi terasa kurang pas dan sepertinya ada sesuatu yang mengganjal. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah kalimat a dan b. Kedua, makna kalimatnya sukar dipahami karena mendua (ambigu). Contoh kalimat tidak efektif karena ambigu adalah kalimat c dan d. Ketiga, yang paling parah adalah jika terjadi salah nalar. Akibatnya, kalimat yang dihasilkan pun seperti kalimat e dan f.


SOAL LATIHAN KALIMAT
   1.       Tingkat resiko bank-bank yang bergerak dalam retail banking relatif lebih rendah. Subjek kalimat      itu adalah...
Jawaban:
   2.       Pospek bisnis kartu kredit di Indonesia sangan baik.
Predikat kalimat di atas adalah...
Jawaban: D. Sangat baik
   3.       Kalimat yang efektif dibawah ini adalah ...
Jawaban: D. Hasil dari pertemuan itu harus segera dirumuskan.
   4.       Contoh kalimat yang memiliki subjek yang jelas adalah ...
Jawaban: C. Bagi semua supir harus memiliki SIM
   5.       Contoh kalimat yang memiliki predikat yang jelas adalah ...
Jawaban: C. Beberapa perusahaan melanggar peraturan.
  6.       Inti kalimat Gubernur DKI Jakarta sudah memberi kelonggaran kepada pedagang kaki lima di pinggir jalan atau tempat-tempat lain di lima wilayah kota selama bulan puasa adalah...
Jawaban: A. Gubernur DKI Jakarta memberi kelonggaran kepada pedagang kaki lima.
   7.       Inti kalimat Dia akan pergi ke luar Negeri pada awal tahun ini adalah ...
Jawaban: D. Dia akan pergi awal tahun ini
   8.       Pola kalimat Engkau harus rajin belajar adalah...
Jawaban:
   9.       Kalimat Ari memasukan uangnya ke dalam tas berpola ...
Jawaban: A. S-P-O-Ket
  10.   Kalimat berikut ini yang berpola S-P-Pel adala...
Jawaban:  D. Wajah adiknya menyerupai adik saya
  11.   Kalimat yang berpola S (KB) + P(KK) + O (KB) adalah ...
Jawaban:
  12.   Pola kalimat mangga arumanis mengeluarkan aroma yang sangat harum sama dengan pola kalimat ...
Jawaban:
  13.   Di antara kalimat tanya berikut, yang paling berpotensi dan mudah di ubah menjadi kalimat berita adalah ...
Jawaban: B. Siapa saja yang terpilih?
  14.   Yang termasuk kalimat inversi adalah ...
Jawaban:
  15.   Struktur kalimat berikut yang tidak baik dan tidak benar adalah ...
Jawaban: B. Makalah ini berbicara tentang kenaikan harga mobil baru.
  16.   Kalimat yang unsurnya koheren menurut kaidah bahasa adalah ...
Jawaban:
  17.   Kalimat mana yang bagus diksinya?
Jawaban:
  18.   Manakah diantara kaliamt berikut ini yang paling efektif ?
Jawaban: C. Sidang umum telah berjalan dengan lancar sesuai dengan kehendak rakyat.
  19.   Manakah kalimat berikut yang tergolong efektif?
Jawaban: A. Bebas parkir dihalaman toko swalayan yang ramai itu.
  20.   Kalimat yang paling tidak efektif adalah ...
Jawaban: D. Hambatan yang di temui ada kurangnya tenaga terampil.
  21.   Kalimat Dalam rapat itu di putuskan tiga hal pokok, yaitu per-baikan mutu produk, meningkatkan produksi iklan, dan pemasaran yang lebih gecar bukan kalimat yang baik jika dilihat dari segi ...
Jawaban:
  22.   Kalimat yang paling efektif dibawah ini adalah ...
Jawaban: C. Kepada pengemudi diminta agar mentaati marka jalan.
  23.   Contoh kalimat tanpa kata-kata mubazir adalah ...
Jawaban:
  24.   Peraturan itu berlaku bagi seluruh mahasiswa tanpa kecuali.
Kejanggalan kalimat itu terjadi akibat pengguanaan kata ...
Jawaban: B. Tanpa kecuali
  25.   Kepada bapak rektor, waktu dan tempat kami persilahkan untuk...
Kalimat tersebut terasa rancu, cara memperbaikinya adalah...
Jawaban: C. Kata waktu dan tempat dihilangkan
 26.   Kalimat ketika saya berdoa, terdengar pintu diketuk. Memakai kata penghubung yang menyatakan...
Jawaban:
  27.   Contoh kalimat majemuk dengan struktur setara menggabungkan adalah...
Jawaban: B. Saya membeli buku itu dan menghadiahkannya untuk teman saya.
  28.   Contoh kalimat majemuk bertingkat dengan anak kalimat pengganti keterangan waktu adalah...
Jawaban:
 29.   Kalimat piere curie dan Marie Curie telah mengabdikan hidupnya untuk ilmu adalah kalimat majemuk setara yang menyatakan hubungan...
Jawaban: A. Pemilihan
  30.   Kaliamt dibawah ini tidak logis, kecuali...
Jawaban: B. Ia pasti penyanyi karena buku musiknya banyak
B.    Perbaikilah kalimat berikut agar efektif. Variasi perbaikan setiap nomor minimal dua kalimat.     Kata-  katanya boleh di ganti , ditambah, atau dikurangi asalkan kalimatnya jelas.
Jawaban:
   1.       Karena himpitan ekonomi yang memaksa mereka untuk nekat mempuh bahaya.
   2.       Para duta-duta besar bertadatangan hadir pada upacara peringatan 100 tahun Bung Hatta.
   3.       Di dalam kehidupan ini penuh ketidakpastian, kecuali kematian.
   4.       Di dalam tubuh darah manusia mengandung virus HIV.
   5.       Kesalahan itu ada pada diri kita dan diri kita sendiri yang harus memperbaikinya.
   6.       Dengan mengucapkan HAMDALAH, maka selesailah makalah ini.
   7.       Larutan menghilangkan sariawan, panas dalam, hidung tersumbat, dan bibir pecah-pecah.
   8.       Dari hasil menyelidikan terbukti dalam kasus pengeboman itu dia tidak terlibat.
   9.       Dalam pertemuan yang di hadiri oleh wakil Gubernur, perundingan perparkiran dilakukan.
  10.   Kakek saya haji, nenek saya hajah, kakak saya mahasiswa, adik saya mahasiswi, ayah saya bekerja sebagai direktur di perusahaan, dan ibu saya bekerja sebagai direktris perusahaan.